Minggu, 18 September 2011

I am a Public Relations (PR)


PR atau Public Relations atau (lagi) dalam bahasa Indonesianya adalah Humas.

Yap… profesi yang satu ini sedang booming di Indonesia sejalan dengan semakin diminatinya jurusan atau fakultas Ilmu Komunikasi. Sayangnya hal ini tidak disertai dengan pemahaman yang baik tentang apa itu PR, fungsi, peran, job desc, dan kualifikasi apa saja yang harus dimiliki oleh seorang praktisi PR.

Minat pada dunia jurnalistik dan keinginan yang kuat untuk mengembangkan kemampuan komunikasi-lah yang membuat aku hanya mau kuliah mengambil jurusan Ilmu Komunikasi atau Hubungan Internasional. Ketertarikan pada dunia jurnalistik dan komunikasi, ehmmm.. ga’ tau juga berasal dari mana? Seingatku, aku sudah mulai aktif dalam kegiatan jurnalistik sejak SMA kelas 1 dan berhenti tepat 6 bulan sebelum UN. Anak Majalah dinding (MADING) hehe 

Yah…itulah yang membuat aku tertarik untuk mendalami Ilmu Komunikasi. Lagipula males banget pikirku waktu itu yang herannya sampai sekarang juga, kok kuliah susah dan mahal ambil jurusan yang banyak saingannya kayak dokter, manajemen, akuntansi, marketing, pokoknya yang berbau ekonomi gitu deh. Males banget ama teori dan matematika. Dan beruntungnya saya dapet statistik di LSPR :'( (beruntung apa naas yaa)

Ternyata, begitu masuk kuliah dong!!!!
PR itu menyenangkan loh, penuh tantangan dan walaupun saat ini sudah mulai banyak orang yang tertarik pada bidang ini, namun SDM yang berkualitas dan merupakan SDM dengan basic ilmu Komunikasi atau PR masih sangat jarang. Padahal peluang karir bidang PR untuk di Indonesia, menurutku baru menapak beberapa langkah.

Setahun belakangan ini, aku banyak mendapatkan informasi baik dari buku, majalah, berita, maupun jurnal yang menghubungkan antara dunia PR dan marketing. Malah menurut Philip Kotler, PR itu jadi salah bagian dalam Marketing Mix. Tetapi PR dan Marketing ga bisa disamakan, tergantung dari sudut pandang kita mendefinisikan kedua ilmu tersebut.

Lalu, aku baru sadar setelah baca artikel tentang Bapak Pudjobroto (Vice President Corporate Communications Garuda Indonesia Airlines) bahwa kebanyakan tokoh yang dikenal oleh mahasiswa Komunikasi/PR adalah Phillip Kotler. Sekedar info aja hehe.

Mencari buku mengenai PR memang agak sulit ditemuin. Hal ini tidak lain dan bukan karena boomingnya profesi ini dan menjamurnya jurusan yang dibuka tidak disertai juga dengan pengertian yang benar tentang PR. Kenapa kurang? karena praktisi PR yang benar-benar menguasai PR juga masih sangat sedikit, sehingga buku-buku atau jurnal-jurnal penunjang pun menjadi sangat minim.

Hal ini bisa sangat berbahaya bagi mahasiswa PR sendiri. Iya kalau mahasiswa itu aktif untuk mencari informasi, nah kalau modelnya mahasiswa itu sama seperti wakil rakyat yang kerjanya duduk, dengar, dan diam ini lalu bagaimana?

Sebenarnya tidak hanya bagi mahasiswa itu sendiri, namun juga bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia PR, entah itu dosen atau PR profesional sendiri. PR itu kan ilmu sosial, ga sama seperti ilmu-ilmu alam yang udah ada rulesnya yang pasti. Namanya ilmu sosial pasti akan selalu berkembang setiap saat dan orang-orang PR ini harus juga bisa mengikuti perkembangan ini. Misalnya nih ya, kalau dosennya tidak mendapatkan informasi yang cukup dan jarang meng-update-nya, brarti kalau ada apa-apa berarti yang ikut kena getahnya ya mahasiswanya donk, contoh lain kalau itu kejadian menimpa PR profesional berarti yang menanggung getahnya ya klien atau perusahaan tempatnya bekerja. Tapi LSPR beda dong, STIKOM ini banyak menyediakan buku mengenai PR dan Komunikasi itu sendiri di Perpus dan banyak dosen juga yang memang seorang penulis. Keren kan haha

Di Indonesia ini, PR sering dijadikan departemen tambahan atau sampingan. Kalau ga ada PR-nya g keren, g mengikuti perkembangan, dst. Padahal g!!! PR itu profesi yang sangat krusial dan penting (semuanya penting juga kok). PR ga hanya sekedar tukang omong, cuap sana-cuap sini, bikin news release, ngurusi event, menjalin hubungan dengan media (media relations), banyak hal yang menjadi bidang PR karena yang diurusi PR itu kan ya manajemen komunikasi 2 arah antara perusahaan itu sendiri dengan publiknya. Publik itu ada dua, publik internal (karyawan, manajemen,pemilik saham,keluarga karyawan,dst) dan eksternal (pemerintah, media massa, komunitas-komunitas,dst). Karena itu, di banyak literatur PR dikatakan bahwa posisi PR itu penting untuk mempunyai hubungan langsung dengan CEO-nya.

Bicara lagi soal PR di Indonesia…hiks sedih aku soalnya udah kadung cinta banget sama profesi ini….
Banyak sekali organisasi/ perusahaan yang belum memandang pentingnya profesi di organisasi/perusahaan mereka. Padahal sebenarnya posisi PR itu tidak ada itu g masalah, yang penting adalah bagaimana bagian-bagian dalam fungsi PR itu ada dalam organisasi/perusahaan itu. Contohnya nih website perusahaan. Buanyak banget website yang jarang di-update, padahal dengan adanya website kan perusahaan/organisasi bisa dikenal dan menjadi lebih dekat dengan stakeholdernya. Mereka bisa memberikan informasi umum tentang organisasi/perusahaan selengkap-lengkapnya, sehingga eksistensi mereka bisa lebih terjaga. Tapi, ada lagi yang lebih parah. Jangankan di-update, punya aja kagak!!!!! ini kan era PR 2.0 bapak-bapak ibu-ibu. Harus melek teknologi dong. Curhat generasi muda haha

Kemudian kebanyakan yang tidak punya adalah (sayangnya) instansi pemerintahan, contohnya nih ya KONI, PERBASI, PSSI, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kemudian bagaimana masyarakat dapat mengenal kalau untuk mendapatkan informasi saja susahnya kayak mau nemui bapak presiden (btw pemerintahan/pak SBY punya g ya?).

Itu masih dari sisi website, belum menyentuh sisi PR yang lainnya. Namanya PR pasti kan memberikan informasi, kalau sumber informasinya saja tidak ada mau mengetahui yang lainnya lagi dari mana?? Ya tentu dong kalau gitu eksistensi organisasi/perusahaan tersebut jadi turun-turun kayak prestasi Indonesia di mata dunia.

Memang tidak semuanya jelek, namun kalau Garuda saja masih bisa kena masalah gara-gara dicekal g boleh terbang di Eropa (btw, menghubungi PR Garuda gimana ya??) apalagi yang lainnya??

Memang memiliki PR tidak akan menjadi jaminan bahwa eksistensi perusahaan/organisasi tersebut akan 1000% membaik di mata stakeholdernya, namun minimal bidang-bidang kerja PR tersebut dilaksanakan dalam manajemen organisasi/perusahaan tersebut. Nah kalau pihak profesional sudah siap, maka calon-calon SDM baru dunia komunikasi bisa memberikan kontribusi mereka dengan maksimal.

PR bicara tentang image/citra, dan bicara tentang image tentu akan bicara tentang stakeholdernya. Gimana mau dapat citra seperti yang dikehendaki oleh perusahaan/organisasi, kalau tidak melakukan strategi dan kampanye PR yang seharusnya dilakukan.

Harapannya sih dunia PR di Indonesia ini berkembang menuju arah yang benar deh… Soalnya kan sayang banyak SDM yang berkualitas namun tidak dapat memberikan tenaga mereka di tempat yang tepat. Dan sebaiknya konsep tentang PR itu benar-benar dimengerti oleh Indonesia deh, soalnya berabe juga kalau yang tau hanya segelintir orang, sama aja ngomong sama tembok kalau persepsi dan pengertiannya berbeda. Soalnya PR bukan soal OMONG DOANK!!! Nemenin orang karaoke-an!!! BUKAN itu yaaa

Cukup sekian dan terima kasih udah menyempatkan waktu buat kunjungin blog ini dan baca postingan ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thx for your comment :)